Kamis, 25 April 2013

PROGRAM BIMBINGAN KONSELING DALAM KELUARGA


PROGRAM BIMBINGAN KONSELING DALAM KELUARGA

A.    Pengertian Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Bimbingan dalam keluarga adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungan keluarganya serta dapat mengarahkan diri dengan baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat, khususnya untuk kesejahteraan keluarganya.
Sedangkan definisi bimbingan konseling keluarga menurut para hali lainnya :
1.      Proses upaya bantuan yang diberikan kepada individu sebagai anggota keluarga, baik dalam mengaktualisasikan potensinya, maupun dalam mengantisipasi serta mengatasi masalah yang dihadapinya, yang dilakukan melalui pendekatan sistem.
2.      Suatu proses interakif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan, dimana setiap anggota keluarga memperoleh pencapaian kebahagiaan secara utuh.
B.   Latar Belakang Pentingnya Bimbingan Konseling dalam Keluarga
1.        Sumber penyebab masalah yang muncul pada seseorang / individu, cenderung berasal dari keluarga.
2.        Sakitnya seorang anggota keluarga (secara psikis), cenderung bukanlah disebabkan oleh dirinya sendiri, namun karena interaksi dengan anggota keluarga lainnya sebagai sistem   keluarga yang telah terganggu.
3.        Terjadinya maladjusted pada seseorang dalam keluarga, akan berpengaruh terhadap    anggota keluarga lainnya.
4.         Hubungan diantara kedua orang tua, sangat mempengaruhi terhadap hubungan antara anggota keluarga sebagai sistem.

C.   Fungsi dan Manfaat Bimbingan Konseling dalam Keluarga
1.  Fungsi Pemahaman
Yaitu fungsi bimbingan yang membantu klien agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstrukti.
2.  Fungsi Preventif
                       Yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh klien. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada klien tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya
3.   Fungsi Pengembangan
Yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya.Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan klien. Konselor secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu klien mencapai tugas-tugas perkembangannya.
4.    Fungsi Perbaikan (Penyembuhan)
Yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada klien yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
5.   Fungsi Penyaluran
Yaitu fungsi bimbingan dalam membantu klien memilih kegiatan, atau program apa dalam memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga.
6.    Fungsi Adaptasi
Yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf,  konselor, dan guru  untuk menyesuaikan  program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa (siswa). Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai siswa, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan siswa secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan  siswa.
7.   Fungsi Penyesuaian
Yaitu fungsi bimbingan dalam membantu klien agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
      Sedangkan manfaat pelaksanaan bimbingan konseling dalam keluarga adalah :
1.     Menurunkan bahkan menghilangkan stres dalam diri anggota keluarga.
2.     Membuat diri lebih baik, tenang, nyaman, dan bahagia.
3.     Lebih memahami diri sendiri dan orang lain khususnya anggota keluarga yang lain.
4.     Merasakan kepuasan dalam hidup.
5.     Mendorong perkembangan personal.
6.     Membangkitkan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh, berkarakter, dan percaya diri.
7.    Anggota keluarga lebih merasa dirinya dipedulikan dan diperhatikan serta lebih dihargai peranannya dalam  keluarga.
8.     Lebih menghargai makna dan hakikat kehidupan dan menerima semua kenyataan yang terjadi dalam kehidupannya.
9.     Mengurangi bahkan menghilangkan konfilik/tekanan batin yang bergejolak dalam diri individu dan dalam keluarga tersebut.
10.                         Meningkatkan hubungan yang lebih efektif dengan anggota keluarga yang lain bahkan dengan orang lain diluar keluarganya.

D.   Tujuan Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Tujuan dari konseling keluarga pada hakikatnya merupakan layanan yang bersifat profesional yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:
1.      Membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan antar anggota keluarga.
2.      Membantu anggota keluarga dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota keluarga mengalami masalah, dia akan dapat memberikan pengaruh, baik pada persepsi, harapan, maupun interaksi dengan anggota keluarga yang lain.
3.      Upaya melaksanakan konseling keluarga kepada anggota keluarga dapat mengupayakan tumbuh dan berkembang suatu keseimbangan dalam kehidupan berumah tangga.
4.        Mengembangkan rasa penghargaan diri dari seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lain.
5.      Membantu anggota keluarga mencapai kesehatan fisik agar fungsi keluarga menjadi maksimal.
6.      Membantu individu keluarga yang dalam keadaan sadar tentang kondisi dirinya yang bermasalah, untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri dan nasibnya sehubungan dengan kehidupan keluarganya.


E.   Pentingnya Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Bimbingan konseling memiliki arti penting untuk dilaksanakan karena alasa berikut :
1.          Makin kompleksnya permasallahan pada keluarga modern.
2.          Adanya perbedaan iindividual antara suami-iisteri serta anggota keluarga yang mengakibatkan ttimbulnya permasalahan dalam keluarga.
3.           Makin meningkatnya kebutuhan manusia sementara sumber pemenuhan terbatas.
4.          Adanya perkembangan iindividu akibat pengaruh lluar yang berdampak bagi perilaku manusia dalam keluarga.

F.  Pihak – pihak yang Melaksanakan Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Pihak – pihak yang melaksanakan bimbingan dalam keluarga adalah orang yang paling mengerti dan memahami karakter anggota keluarga. Adapun pihak – pihak yang dapat melaksanakan bimbingan dan konseling dalam keluarga, diantaranya :
1.  Ayah/ibu (suami/istri)
Ayah/ibu adalah tumpuan utama keluarga, tanpa adanya ayah dan ibu suatu keluarga tidak mungkin terbentuk. Ayah dan ibu adalah unit utama yang dapat mempengaruhi perilaku anaknya.
2.  Paman/bibi
Paman/bibi ini adalah kerabat dari pihak ayah maupun ibu. Peran paman/bibi hampir sama dengan peran orang tua, walaupun terkadang terdapat perbedaan diantaranya.
3.  Kakek/nenek
Kakek/nenek adalah pihak yang juga memiliki peranan penting dalam melaksanakan  bimbingan, karena anak pada umumnya lebih dekat kepada kakek/nenek dibandingkan ayah/ibu, terutama ayah/ibu yang sibuk dengan karirnya.
4.  Kerabat dekat
     Kerabat dekat ini biasanya lebih dikenal dengan sepupu. Anggota keluarga bisanya lebih suka mencurahkan isi hatinya kepada sepupu karena biasanya sepupu memiliki umur/sebaya dengan mereka, yang dianggap lebih memahami kondisi anggota keluarga tersebut.
5.  Mertua
Mertua berasal dari ayah/ibu pihak suami/istri. Walaupun ada anggapan ‘mertua galak’ namun tidak semuanya seperti itu. Mungkin saja mertua dapat membantu anda dalam menyelesaikan masalah di keluarga anda karena lebih memahami karakter menantu/anaknya sendiri.
6.  Konselor diluar keluarga
     Konselor diluar keluarga adalah orang ahli yang didatangkan di luar sistem keluarga namun  telah dipercaya oleh keluarga tersebu untuk membantu menyelesaikan problematika yang terjadi didalam keluarganya.

G.   Bentuk Bimbingan Konseling  Keluarga
Kecenderungan pelaksanaan konseling keluarga adalah sebagai berikut :
1.      Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks sistem keluarga. Klien merupakan bagian dari sistem keluarga, sehingga masalah yang dialami dan pemecahannya tidak dapat mengesampingkan peran keluarga.
2.      Berfokus pada saat ini, yaitu apa yang diatasi dalam konseling keluarga adalah masalah-masalah yang dihadapi klien pada kehidupan saat ini, bukan kehidupan yang masa lampaunya. Oleh karena itu, masalah yang diselesaikan bukan pertumbuhan personal yang bersifat jangka panjang.
Bentuk konseling keluarga dapat terdiri dari ayah, ibu, dan anak sebagai bentuk konvensionalnya.


H.   Jenis Layanan Bimbingan Konseling dalam Keluarga
1.  Layanan Orientasi
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien memahami lingkungan yang baru dimasukinya, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya klien di lingkungan yang baru itu.
2.  Layanan Informasi
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan klien.
3.  Layanan Penempatan dan penyaluran
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ektrakulikuler) sesuai dengan potensi, bakat, minat serta kondisi pribadinya.
4.  Layanan pembelajaran
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai meteri pelajaran yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.
5.  Layanan Konseling Individual
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dideritanya.
6.   Layanan Bimbingan Kelompok
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu dan/atau membahas secara bersama-ama pokok bahasan (topik) tertentu yang berguna untuk menunjang untuk  pemahaman dan kehidupannya mereka sehari-hari dan/atau untuk pengembangan kemampuan sosial, baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, serta untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan/atau tindakan tertentu.
7.  Layanan Konseling Kelompok
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok, masalah yang dibahas itu adalah masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok.
8.  Layanan Keagamaan dan Pembinaan Akhlak
Selain hal – hal diatas layanan keagaamaan dan pembinaan akhlak merupakan hal yang terpenting diberikan kepada individu khususnya anggota keluarga. Karena terbentuknya keluarga yang dinamis dan harmonis berlandaskan pada tiang agama. Dengan adanya pembinaan akhlak, individu selaku anggota keluarga dapat mengetahui bagaimana akhlak untuk berinteraksi dengan orang lain yang lebih tua maupun yang lebih muda.

I.    Jenis – jenis Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Jenis bimbingan konseling yang biasanya dilakukan didalam keluarga diantaranya :
1.  Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar merupakan proses untuk membantu anak mengatasi kesulitan belajarnya. Orang tua dalam hal ini berperan mengajarkan dan membimbing, bukan mengerjakan tugas si anak.
2.  Bimbingan Ibadah/Agama
Dengan adanya bimbingan ini, anggota keluarga dapat mengenal agamanya sendiri, kaidah ataupun ajaran yang berlaku dalam agamanya sehingga memungkinkan untuk lebih mendekatkan diri kepada yang kuasa.
3.  Bimbingan Akhlak
Perkataan akhlak dari bahasa arab, jamak dari khuluk, secara lugowi diartikan tingkah laku untuk kepribadian. Akhlak diartikan budi pekerti, perangi, tingkah laku, atau tabiat. Untuk mendapatkan definisi yang jelas di bawah ini penulis akan kemukakan beberapa pendapat diantaranya: Ahmad Amin (Moh. Rifai, 1987: 41) mengemukakan bahwa “akhlak yang dibiasakan, artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak.
Secara umum bahwa akhlak dapat disamakan dengan budi pekerti, perangai atau kepribadian dari hal tersebut setiap individu berangkat dalam mempertahankan jati diri dari kesewenangan-wenangan individu lainnya, akhlak dapat mencerminkan kepribadian sekaligus dapat menggambarkan karakteristik untuk senantiasa dibina demi mempertahankan citra diri dan keluarga serta masyarakat sekitarnya. Seorang individu mempunyai akhlak, awalnya adalah hasil dari bimbingan orang tuanya dalam lingkungan keluarga, pengaruh yang tidak sengaja akan dapat diperoleh melalui Pengamatan panca indera, yang tidak disadari masuk dalam pribadi anak atau individu.

4.  Bimbingan Orientasi
 Bimbingan orientasi ini dimaksudkan untuk memberi arah atau gambaran kepada anggota keluarga dalam kehidupan. Misalnya membimbing anak dalam mencapai cita – cita dan keinginannya.
5.  Bimbingan Konseling Penyelesaian Masalah
Jika anggota keluarga mengalami masalah, jangan memarahinya. Karena hal ini akan memperburuk keadaan. Usahakan untuk membantu anggota keluarga mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.
6.  Bimbingan Keterampilan Hidup
Bimbingan keterampilan hidup (lifeskillscounseling) disebut juga lifeskills helping (LSH) atau lifeskills therapymerupakan “suatu pendekatan yang integratif untuk membantu klien agar mampu mengembangkan keterampilan membantu dirinya sendiri (self-helping)”.
Kata “skills” berkenaan dengan (1) wilayah (areas) keterampilan, seperti keterampilan Sementara keterampilan hidup diartikan sebagai sikap dan kemampuan untuk menghadapi berbagai problema kehidupan secara wajar, proaktif dan kreatif menemukan solusinya.
J.  Teknik Konseling Keluarga
Dalam konseling, di samping menggunakan teknik-teknik umum, dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus.
1.  Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya.
2.  Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks.
3.  Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut..
4.  Pembentukan Perilaku Model
Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk
6.  Latihan Saya Bertanggung Jawab
Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain.
7.  Bermain Proyeksi
Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain.

K.   Tata Cara Pelaksanaan Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Adapun tata cara pelaksanaan bimbingan dalam keluarga, diantaranya :
1.         Kenali pribadi individu terlebih dahulu, kenali karakter dan masalah – masalah yang sedang dihadapi individu (anggota keluarga) tersebut.
2.           Lakukan pendekatan, dengan pendekatan dan mendengar keluh kesah anggota tersebut ia mungkin akan merasa lebih aman untuk mencurahkan isi hatinya.
3.         Beri selang waktu agar anggota keluarga tersebut memiliki waktu luang yang tepat untuk menceritakan masalah/petentangan batinnya.
4.         Ciptakan suasana yang senyaman (kondusif) mungkin bagi individu, atau anda dapat menggunakan ruangan khusus yang diberikan aroma terapi.
5.         Hindari emosi dan rasa curiga serta rasa ingin tahu yang berlebihan. Terkadang orang merasa jengkel jika seseorang ingin tahu apa saja yang terjadi dalam dirinya secara berlebihan dan memaksakan.
6.         Jika individu/anggota keluarga tersebut membutuhkan nasihat atau kritik yang membangun maka berilah. Namun jangan berlebihan sehingga terkesan menggurui.
7.          Berikan motivasi dan bangkitkan rasa percaya dirinya dengan memberikan contoh yang dapat menjadi teladan.
8.         Sedapat mungkin bantulah ia mencari solusi/jalan keluar bagi masalah yang dihadapinya.
9.         Berikan pujian jika hal ini memang dibutuhkan.
10.     Gunakan media yang dapat membantu anda untuk memberikan arahan agar individu dapat memecahkan masalahnya.
11.      Konsultasi dengan pihak – pihak terkait atau orang yang lebih ahli dalam menangani individu tersebut.
12.     Rahasiakan masalah/konflik yang terjadi dalam diri individu/anggota keluarga tersebut.
13.     Bimbingan tidak dapat dilakukan dengan jalan pintas atau backstreet dan ditinggalkan begitu saja, tapi harus dilakukan secara berkala.

L.   Peranan Agama dalam Bimbingan Konseling Keluarga
Agama merupakan landasan dasar terbentuknya keluarga yang sakinah. Agama juga yang mengatur tentang kosep kehidupan berkeluarga. Pendidikan agama harus dimulai dari rumah tangga, sejak si anak masih kecil. Pendidikan tidak hanya berarti memberi pelajaran agama kepada anak-anak yang belum lagi mengerti dan dapat menangkap pengertian-pengertian yang abstrak. Akan tetapi yang terpokok adalah penanaman jiwa percaya kepada Tuhan, membiasakan mematuhi dan menjaga nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang ditentukan oleh ajaran agama.

















DAFTAR PUSTAKA


Ifdil  . 2007. Kerangka Konseptual Konseling Pemuda dan Keluarga. [Online]. Tersedia :http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=104



�_��K.

Minggu, 31 Maret 2013

BIMBINGAN BAGI SISWA YANG LAMBAT BELAJAR


BAB II
BIMBINGAN BAGI SISWA YANG LAMBAT BELAJAR

A.    PENGERTIAN SISWA YANG LAMBAT BELAJAR

Individu yang lambat belajar pada hakikatnya merupakan individu yang memiliki intelegensi  di bawah normal. Fransley dan R.Gulliford mendefinisikan murid lambat belajar karena murid-murid kemampuan atau kondisi-kondisi yang lain yang terbatas yang mengakibatkan keterlambatan pendidikan, memerlukan bentuk pendidikan kusus ,keseluruhan  atau sebagian bersama dengan yang diberikan pada sekolah-sekolah. Teman berkait dengan anak lambat belajar membuat suatu klasifikasi bahwa IQ anak lambat belajar berkisar 70 sampai 90. Murid seperti ini tidak di golongkan sebagai murid yang memiliki keterlambatan mental, karena dia dapat mencapai hsil belajar yang cukup memadai kendatipun pada tingkat yang lebih rendah dari pada murid-murid yang memiliki kemampuan normal atau sedang.
Murid lambat belajar bisa mengikuti pembelajaran sebagaimana kelas reguler biasa (tanpa harus memerlukan adanya peralatan yang khusus), hanya program belajarnya mungkin agak sedikit disesuaikan  , terutama berkaitan dengan metode dan rentang waktunya. Masalah pokok yang dialami murid-murid yang lambat belajar adalah keterlambatan dalam belajar akibat dari keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Penyesuaian diri menjadi masalah akibat keadaan emosi yang kurang terkendali sehingga sering terjadi perselisihan dengan teman-temannya.
Anak lamban belajar adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Masalah-masalah yang mungkin bisa jadi penyebab anak lamban belajar antara lain karena masalah konsentrasi, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah social dan emosional.

B.     KEBUTUHAN DAN KARAKTERISTIK SISWA LAMBAT BELAJAR

Analisis kebutuhan serta permasalahan perkembangan yang mungkin muncul sebagai upaya perkembangan model program pendidikan yang kondusif perlu dilakukan dengan bagi yang memahami berbagai aspek yang ada pada individu (siswa) , yaitu :
1.    Perkembangan fisik
2.    Perkembangan kognitif
3.    Perkembangan emosi
4.    Perkembangan sosial
Kalau dilihat dari karakteristis anak yang lamban belajar yaitu;
1.      Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6,
2.      Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya,
3.      Daya tangkap terhadap pelajaran lambat,
4.      Pernah tidak naik kelas.

C.     IDENTIFIKASI SISWA YANG LAMBAT BELAJAR
Siswa lambat belajar perlu diidentifikasikan secara lebih mendalam dan menyeluruh.identifikasi secara mendalam dan menyeluruh akan memungkinkan guru di dalam menyusun program bantuan dan layanan bimbingan secara tepat sehingga mencapai hasil yang optimal.
Identifikasi siswa lambat belajar antara lain meliputi :
1.         Penilaian pendidikan :
a.         Prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran-pelajaran dasar dan  kesulitan-kesulitan yang dialami
b.        Tingkat perkembangan bahasa dan pembicaraan siswa
c.         Sikap sosial dan emosial siswa di dalam dan di luar sekolah
d.        Minat dan sikap terhadap sekolah
e.         Riwayat pendidikan sebelumnya meliputi perubahan-perubahan sekolah dan kehadiran
f.         Minat dan latar belakang pengetahuan siswa
2.      Pemeriksaan kesehatan yang meliputi keadaan kesehatan pada umumnya penyakit yang pernah di derita,penglihatan,pendengaran, hidung,dan sistem syaraf.
3.      Pemeriksaan psikologi yang meliputi kualitas berfikir,kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan intelektual,sikap serta sifat-sifat pribadi lainnya
4.      Pengungkapan taraf perkembangan sosial siswa seperti suasana emosional kesulitan-kesulitan yang dialami yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar siswa

D.    PENYELENGGARAAN BIMBINGAN BAGI SISWA LAMBAT BELAJAR
Siswa lambat belajar dapat di didik bersama dengan siswa norma , namun mereka tidak dapat diharapkan dapat mencapai hasil belajar sebagaimana siswa yang normal. Mereka kurang dapat berikir secara abstrak oleh karena itu bimbingan kepada mereka harus berkaitan dengan pengalaman nyata.
Bentuk bimbingan yang dapat diberikan kepada siswa lambat belajar antara lain :
1.    Menyediakan kesempatan belajar bagi siswa sesuai dengan tingkat kemampuannya.
2.    Membantu siswa menerima serta menyesuaikan mental yang ingin dimilikinya.
3.    Melatih siswa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.
4.    Mendorong siswa mengembangkan sikap-sikap kontruktif terhadap kegiatan kegiatan ke rumahtangganan,sosial serta kewarganegaraan

E.     TEHNIK BIMBINGAN BAGI SISWA YANG LAMBAT BELAJAR
Program Layanan Bimbingan Konseling yang dikembangkan bagi siswa lambat belajar mengacu pada keadaan individu sebagai manusia seutuhnya sehingga menyentuh semua dimensi perkembangan kepribadian secara utuh.
Tehnik yang dimaksudkan untuk menangani siswa tersebut akan mengarah pada unsur-unsur yang berhubungan dengan :
1.    Pengembangan ranah kognitif/intelektual
Pada pemgembangan ini guru diharapkan menyediakan rentangan pengalaman belajar yang luas serta dapat diamati atau nyata. Pengelolahan bahan dan tugas ajar secara khusus yang di dasarkan pada kurikulum yang ada merupakan hal yang harus dilakukan guru dalam memberikan pelayanan optimal bagi siswa lambat belajar
2.    Pengembangan ranah afektif
Pembimbing diharapkan memahami pikiran dan harapan anak yang ada pada dirinya serta kemungkinan pemenuhannya di dalam sikap kehidupan berkelompok

3.    Pengembangan ranah fisik
Pembimbing diharapkan memberikan layanan yang dapat memberikan kemungkinan siswa memperoleh pengalaman memadukan pola perkembangan berikir dengan perkembangannya dan memberikan peran-peran yang sesuai di dalam kelompoknya.
4.    Pengembangan ranah intuitif
Fungsi intuitif merupakan fungsi yang terlibat di dalam pemunculan wawasan dan tindakan kreatif. Mengingat fungsinya itu, maka layanan bagi siswa yang lambat belajar perlu memperdulikan pengembangan pengalaman yang mendorong dia untuk berimajenasi dan berkreasi (dalam tingkat yang sederhana)

5.    Pengembangan ranah masyarakat
Pemberian layanan dapat dilakukan dengan membantu siswa  memperoleh pengalaman mengembangkan diri menjadi anggota kelompok,serta mampu berpartisipasi dalam proses kelompok memperluas perasaan keanggotaan masyarakat. Memperluas identifikasi diri dari masyarakat terbatas ke arah identifikasi terhadap masyarakat luas. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan merancang kegiatan-kegiatan kelompok khusus.






BAB III
PENUTUP

A.  KESIMPULAN

Keterlambatan siswa diseba Bimbingan dan Konseling oleh beberapa faktor, faktor pribadi yang bersumber dari diri sendiri yang malas dan tidak disiplin, faktor keluarga: misalnya disuruh orang tua untuk mengantarkan ke pasar atau ke rumah sakit, dan lingkungan juga sangat mempengaruhi. Kerjasama untuk menghasilkan sebuah kedisiplinan antara diri sendiri (siswa). Keluarga dan lingkungan memegang peranan penting. Siswa yang terlambat tentunya tidak dapat dibiarkan begitu saja, meminta tanda tangan kepada wali kelas dan surat izin masuk kepada kepala sekolah sebagai hukuman tidak akan membuat mereka bosan untuk terlambat. Begitu pula dengan susu gratis, jalan di tempat atau menulis surat pendek dari Al-Quran. Namun hukuman di atas ialah salah satu usaha meminimalisir angka keterlambatan tiap harinya. Lalu, hukuman seperti apa yang dapat membuat siswa jera dan tidak terlambat lagi? Semoga cara ini bisa membantu, dan termasuk hukuman yang mendidik.










DAFTAR PUSTAKA

Amti , Erman. Dan Marjohan (1991/1992) , bimbingan dan konseling.
Jakarta:Dirgen Dikti-Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan, Depdikbud
Fransley,A.E and R.Guilford (1971) , The Edication of Slow Learning Children.London: Roudledge & Kegan Paul
Kartadinata, Sunaryo (1997) , Pendidikan untuk Pengembangan SDM bermutu. Makalah Konvensi bersama Divisi-divisi IPBI (IPKON, IGPI, ISKIN, IIBKIN). Purworkerto. 11-14 Desember 1997
Kirk , Samuel A (1962) , Educational Exceptional Children. Boston : Hougton Mifflin Company
Loekmono,J.T Lobby (1997), Arah Pengembangan Profesional Bimbingan dan konseling abad XXI. Makalah Konvensi bersama Divisi-divisi IPBI (IPKON,IGPI,ISKIN,IIKIN). Purwokerto, 11-14 Desember 1997
Prayitno dan Erman Amti (1994). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Rahman, Hibana S (2003) Bimbingan dan Konseling Pola 17. Yogyakarta : UCY Press
Shertzer, Bruce, and Stone, Shelley C, (1981) , “The school Conselor”.
Fundamentals of Guidance. Fourth Edition. Boston : Houghton Miffilin Company
Sutrisno, L (1995) , Remediasi Kesulitan Belajar : Salah Satu pendamping usaha memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia , Suara Almamater No 1 Tahun XII, 1 , Untan, Pontianak
Wimbarti, Supra (1997), Sensitivitas Bimbingan dan Konseling dalam Pengembangan SDM bermutu. Makalah Konvensi bersama Divisi-Divisi IPBI (IPKON, IGPI, ISKIN , IIBKIN). Purwokerto. 11-14 Desember 1997.