Selasa, 15 Januari 2013

SILABUS SEBAGAI PERENCANAAN PEMBELAJARAN

SILABUS SEBAGAI PERENCANAAN PEMBELAJARAN BK

BAB I
PENDAHULUAN

Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai "Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran" (Salim, 1987: 98). Istilah silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari SK dan KD yang ingin dicapai, dan materi pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai SK dan KD. Seperti diketahui, dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditentukan SK yang berisikan kebulatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang ingin dicapai, materi yang harus dipelajari, pengalaman belajar yang harus dilakukan, dan sistem evaluasi untuk mengetahui pencapaian SK.
Dengan kata lain, pengembangan kurikulum dan pembelajaran menjawab pertanyaan (1) Apa yang akan diajarkan (SK, KD, dan Materi Pembelajaran); (2) Bagaimana cara melaksanakan kegiatan pembelajaran, metode, media); (3) Bagaimana dapat diketahui bahwa SK dan KD telah tercapai (indikator dan penilaian).Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.






BAB II
PEMBAHASAN

A.       SILABUS SEBAGAI PERENCANAAN PEMBELAJARAN
1.      Konsep Rencana Pembelajaran
Perencanaan adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Berkenaan dengan perencanaan, perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.
Sampai saat ini riset tentang perencanaan pengajaran masih jarang, tetapi beberapa konsep dapat membantu guru dalam meningkatkan efektifitas pembuatan perencanaan pengajaran.

a.       Identifikasi Kebutuhan
Silabus merupakan sumber pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu SK maupun satu KD. Silabus juga bermanfaat sebagai pedoman untuk merencanakan pengelolaan kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan belajar secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual.
Demikian pula, silabus sangat bermanfaat untuk mengembangkan sistem penilaian. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi sistem penilaian selalu mengacu pada SK, KD, dan indikator yang terdapat di dalam silabus.
b.      Identifikasi Kompetensi
Kompetensi merupakan sesuatu yang ingin dimiliki oleh peserta didik dan merupakan komponen utama yang harus dirumuskan dalam
pembelajaran, yang memiliki peran penting dalam menentukan arah pembelajaran. Kompetensi akan memberikan petunjuk yang jelas
terhadap materi yang harus dipelajari, penetapan metode dan media
pembelajaran serta penilaian. Penilaian pencapaian kompetensi perlu
dilakukan secara objektif berdasarkan kinerja peserta didik, dengan
bukti penguasaan mereka terhadap suatu kompetensi sebagai hasil belajar.
c.       Penyusunan Program Pembelajaran
Penyusunan program pembelajaran akan tertuju pada Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sebagai produk program
pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program
kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program. Komponen program
mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode dan teknik, media
dan sumber belajar, waktu belajar dan daya dukung lainnya.
B.     Silabus
a.       Pengertian Silabus
Silabus disusun berdasarkan Standar Isi, yang di dalamnya berisikan Identitas Mata Pelajaran, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), Indikator, Materi Pokok, Kegiatan pembelajaran, Alokasi Waktu, Sumber Belajar,  dan Penilaian. Dengan demikian, silabus pada dasarnya menjawab permasalahan-permasalahan sebagai berikut.
1.        Kompetensi apa saja yang harus dicapai siswa sesuai dengan yang dirumuskan oleh  Standar Isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar).
2.          Materi Pokok apa sajakah yang perlu dibahas dan dipelajari peserta didik untuk mencapai Standar Isi.
3.          Kegiatan pembelajaran yang bagaimanakah yang seharusnya diskenariokan oleh guru sehingga peserta didik mampu berinteraksi dengan objek belajar.
4.         Indikator apa sajakah yang harus ditentukan untuk mencapai Standar Isi.
5.         Bagaimanakah cara mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan Indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai.
6.         Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai Standar Isi tertentu.
7.         Sumber Belajar apa sajakah yang dapat diberdayakan untuk mencapai Standar Isi tertentu.
b.      Prinsip Pengembangan Silabus
1.        Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertangungjawabkan secara keilmuan.
2.        Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.
3.        Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4.        Konsisten
Ada hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5.         Memadai
Cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapain kompetensi dasar.
6.        Aktual dan Kontekstual
Cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7.        Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik, pendidikan, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.  Sementara itu, materi ajar ditentukan berdasarkan dan atau memperhatikan kultur daerah masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar kehidupan peserta didik tidak tercerabut dari lingkungannya.
8.        Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).
9.        Desentralistik
Pengembangan silabus ini bersifat desentralistik.  Maksudnya bahwa kewenangan pengembangan silabus bergantung pada daerah masing-masing, atau bahkan sekolah masing-masing. 

c.       Unit waktu Silabus
Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan KD. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

d.      Pengembangan Silabus
Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan.
1.      Guru
Sebagai tenaga profesional yang memiliki tanggung jawab langsung terhadap kemajuan belajar siswa, seorang guru diharapkan mampu mengembangkan silabus sesuai dengan kompetensi mengajarnya secara mandiri. Di sisi lain guru lebih mengenal karakteristik siswa dan kondisi sekolah serta lingkungannya.
2.      Kelompok Guru
Apabila guru kelas atau guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri, maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru kelas atau guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan dipergunakan oleh sekolah tersebut
3.      Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)
Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri, sebaiknya bergabung dengan sekolah  lain melalui forum MGMP/PKG untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah dalam lingkup MGMP/PKG setempat.
4       Dinas Pendidikan
Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing.
Dalam pengembangan silabus ini sekolah, kelompok kerja guru, atau dinas pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi, LPMP, atau unit utama terkait yang ada di Departemen Pendidikan Nasional

e.       Langkah-Langkah Pengembangan Silabus
ü  Silabus Pembelajaran memuat sekurang-kurangnya komponen-komponen berikut ini.
a.     Identitas Silabus Pembelajaran
b.     Standar Kompentensi
c.      Kompetensi Dasar
d.     Materi Pembelajaran
e.      Kegiatan Pembelajaran
f.       Indikator Pencapaian Kompetensi
g.     Penilaian
h.     Alokasi Waktu
i.        Sumber Belajar



Komponen-komponen silabus di atas, selanjutnya dapat disajikan dalam contoh format silabus secara horisontal sebagai berikut.

Silabus Pembelajaran

Sekolah                         :  SMP
Kelas/Semester       :  ..... / .......
Mata Pelajaran     :  .......
Standar Kompetensi      : .......


Kompetensi
Dasar
Materi
Pembelajaran
Kegiatan
Pembelajaran
Indikator Pencapaian Kompetensi
Penilaian
Alokasi
Waktu
Sumber
Belajar
Teknik
Bentuk
Instrumen
Contoh
Instrumen





Catatan:
·         Kegiatan Pembelajaran: kegiatan-kegiatan yang spesifik yang dilakukan siswa untuk mencapai SK dan KD
·         Alokasi waktu: termasuk alokasi penilaian yang terintegrasi dengan pembelajaran  (n x 40 menit)
·          Sumber belajar: buku teks, alat, bahan, nara sumber, atau lainnya.






























BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
1.      Yang dimaksud dengan Silabus yaitu rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Sedangkan yang dimaksud dengan RPP adalah Rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk menecapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan di jabarkan dalam silabus.
2.      Prinsip Pengembangan Silabus meliputi : Ilmiah, Relevan, Sistematis, Konsisten, Memadai, Aktual dan Kontekstual, Fleksibel, Menyeluruh. Sedangkan prinsip dalam pengembangan RPP meliputi : kompetensi yang dirumuskan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harus jelas, Rencana pelaksanaan pembelajaran harus sederhana dan fleksibel, Kegiatan disusun dan di kembangkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harus menunjang, Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh, serta harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program disekolah.
3.       Langkah-langkah Pengembangan Silabus meliputi : (1) Identifikasi Mata Pelajaran, (2) Perumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar, (3) Penentuan materi pokok dan uraian materi pokok, (4) Pemilihan pengalaman belajar, (5)Penjabaran kompetensi dasar menjadi indikator, (6) Penjabaran indikator kedalam instrumen penilaian, (7) Menentukan alokasi waktu, (8) Sumber/Bahan/Alat. Sedangkan langkah-langkah dalam pembuatan RPP meliputi : (1) Mengisi kolom  identitas, (2) Menentukan alokasi waktu, (3) Menentukan standar kompetensi dan kompeensi dasar, serta indikator , (4) Merumuskan tujuan pembelajaran, (5)Mengidentifikasi materi standar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus, (6) Menentukan metode pembelajaran, (7) Merumuskan langkah-langkah pembelajaran, (8) Menentukan sumber belajar yang digunakan, (9) Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, dan teknik penskoran.


















DAFTAR PUSTAKA




Kamis, 20 Desember 2012



PROGRAM BIMBINGAN KONSELING DALAM KELUARGA

A.    Pengertian Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Bimbingan dalam keluarga adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungan keluarganya serta dapat mengarahkan diri dengan baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat, khususnya untuk kesejahteraan keluarganya.
Sedangkan definisi bimbingan konseling keluarga menurut para hali lainnya :
1.      Proses upaya bantuan yang diberikan kepada individu sebagai anggota keluarga, baik dalam mengaktualisasikan potensinya, maupun dalam mengantisipasi serta mengatasi masalah yang dihadapinya, yang dilakukan melalui pendekatan sistem.
2.      Suatu proses interakif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan, dimana setiap anggota keluarga memperoleh pencapaian kebahagiaan secara utuh.
B.   Latar Belakang Pentingnya Bimbingan Konseling dalam Keluarga
1.        Sumber penyebab masalah yang muncul pada seseorang / individu, cenderung berasal dari keluarga.
2.        Sakitnya seorang anggota keluarga (secara psikis), cenderung bukanlah disebabkan oleh dirinya sendiri, namun karena interaksi dengan anggota keluarga lainnya sebagai sistem   keluarga yang telah terganggu.
3.        Terjadinya maladjusted pada seseorang dalam keluarga, akan berpengaruh terhadap    anggota keluarga lainnya.
4.         Hubungan diantara kedua orang tua, sangat mempengaruhi terhadap hubungan antara anggota keluarga sebagai sistem.

C.   Fungsi dan Manfaat Bimbingan Konseling dalam Keluarga
1.  Fungsi Pemahaman
Yaitu fungsi bimbingan yang membantu klien agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstrukti.
2.  Fungsi Preventif
                       Yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh klien. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada klien tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya
3.   Fungsi Pengembangan
Yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya.Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan klien. Konselor secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu klien mencapai tugas-tugas perkembangannya.
4.    Fungsi Perbaikan (Penyembuhan)
Yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada klien yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
5.   Fungsi Penyaluran
Yaitu fungsi bimbingan dalam membantu klien memilih kegiatan, atau program apa dalam memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga.
6.    Fungsi Adaptasi
Yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf,  konselor, dan guru  untuk menyesuaikan  program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa (siswa). Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai siswa, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan siswa secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan  siswa.
7.   Fungsi Penyesuaian
Yaitu fungsi bimbingan dalam membantu klien agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
      Sedangkan manfaat pelaksanaan bimbingan konseling dalam keluarga adalah :
1.     Menurunkan bahkan menghilangkan stres dalam diri anggota keluarga.
2.     Membuat diri lebih baik, tenang, nyaman, dan bahagia.
3.     Lebih memahami diri sendiri dan orang lain khususnya anggota keluarga yang lain.
4.     Merasakan kepuasan dalam hidup.
5.     Mendorong perkembangan personal.
6.     Membangkitkan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh, berkarakter, dan percaya diri.
7.    Anggota keluarga lebih merasa dirinya dipedulikan dan diperhatikan serta lebih dihargai peranannya dalam  keluarga.
8.     Lebih menghargai makna dan hakikat kehidupan dan menerima semua kenyataan yang terjadi dalam kehidupannya.
9.     Mengurangi bahkan menghilangkan konfilik/tekanan batin yang bergejolak dalam diri individu dan dalam keluarga tersebut.
10.                         Meningkatkan hubungan yang lebih efektif dengan anggota keluarga yang lain bahkan dengan orang lain diluar keluarganya.

D.   Tujuan Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Tujuan dari konseling keluarga pada hakikatnya merupakan layanan yang bersifat profesional yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:
1.      Membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan antar anggota keluarga.
2.      Membantu anggota keluarga dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota keluarga mengalami masalah, dia akan dapat memberikan pengaruh, baik pada persepsi, harapan, maupun interaksi dengan anggota keluarga yang lain.
3.      Upaya melaksanakan konseling keluarga kepada anggota keluarga dapat mengupayakan tumbuh dan berkembang suatu keseimbangan dalam kehidupan berumah tangga.
4.        Mengembangkan rasa penghargaan diri dari seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lain.
5.      Membantu anggota keluarga mencapai kesehatan fisik agar fungsi keluarga menjadi maksimal.
6.      Membantu individu keluarga yang dalam keadaan sadar tentang kondisi dirinya yang bermasalah, untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri dan nasibnya sehubungan dengan kehidupan keluarganya.


E.   Pentingnya Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Bimbingan konseling memiliki arti penting untuk dilaksanakan karena alasa berikut :
1.          Makin kompleksnya permasallahan pada keluarga modern.
2.          Adanya perbedaan iindividual antara suami-iisteri serta anggota keluarga yang mengakibatkan ttimbulnya permasalahan dalam keluarga.
3.           Makin meningkatnya kebutuhan manusia sementara sumber pemenuhan terbatas.
4.          Adanya perkembangan iindividu akibat pengaruh lluar yang berdampak bagi perilaku manusia dalam keluarga.

F.  Pihak – pihak yang Melaksanakan Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Pihak – pihak yang melaksanakan bimbingan dalam keluarga adalah orang yang paling mengerti dan memahami karakter anggota keluarga. Adapun pihak – pihak yang dapat melaksanakan bimbingan dan konseling dalam keluarga, diantaranya :
1.  Ayah/ibu (suami/istri)
Ayah/ibu adalah tumpuan utama keluarga, tanpa adanya ayah dan ibu suatu keluarga tidak mungkin terbentuk. Ayah dan ibu adalah unit utama yang dapat mempengaruhi perilaku anaknya.
2.  Paman/bibi
Paman/bibi ini adalah kerabat dari pihak ayah maupun ibu. Peran paman/bibi hampir sama dengan peran orang tua, walaupun terkadang terdapat perbedaan diantaranya.
3.  Kakek/nenek
Kakek/nenek adalah pihak yang juga memiliki peranan penting dalam melaksanakan  bimbingan, karena anak pada umumnya lebih dekat kepada kakek/nenek dibandingkan ayah/ibu, terutama ayah/ibu yang sibuk dengan karirnya.
4.  Kerabat dekat
     Kerabat dekat ini biasanya lebih dikenal dengan sepupu. Anggota keluarga bisanya lebih suka mencurahkan isi hatinya kepada sepupu karena biasanya sepupu memiliki umur/sebaya dengan mereka, yang dianggap lebih memahami kondisi anggota keluarga tersebut.
5.  Mertua
Mertua berasal dari ayah/ibu pihak suami/istri. Walaupun ada anggapan ‘mertua galak’ namun tidak semuanya seperti itu. Mungkin saja mertua dapat membantu anda dalam menyelesaikan masalah di keluarga anda karena lebih memahami karakter menantu/anaknya sendiri.
6.  Konselor diluar keluarga
     Konselor diluar keluarga adalah orang ahli yang didatangkan di luar sistem keluarga namun  telah dipercaya oleh keluarga tersebu untuk membantu menyelesaikan problematika yang terjadi didalam keluarganya.

G.   Bentuk Bimbingan Konseling  Keluarga
Kecenderungan pelaksanaan konseling keluarga adalah sebagai berikut :
1.      Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks sistem keluarga. Klien merupakan bagian dari sistem keluarga, sehingga masalah yang dialami dan pemecahannya tidak dapat mengesampingkan peran keluarga.
2.      Berfokus pada saat ini, yaitu apa yang diatasi dalam konseling keluarga adalah masalah-masalah yang dihadapi klien pada kehidupan saat ini, bukan kehidupan yang masa lampaunya. Oleh karena itu, masalah yang diselesaikan bukan pertumbuhan personal yang bersifat jangka panjang.
Bentuk konseling keluarga dapat terdiri dari ayah, ibu, dan anak sebagai bentuk konvensionalnya.


H.   Jenis Layanan Bimbingan Konseling dalam Keluarga
1.  Layanan Orientasi
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien memahami lingkungan yang baru dimasukinya, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya klien di lingkungan yang baru itu.
2.  Layanan Informasi
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan klien.
3.  Layanan Penempatan dan penyaluran
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ektrakulikuler) sesuai dengan potensi, bakat, minat serta kondisi pribadinya.
4.  Layanan pembelajaran
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai meteri pelajaran yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.
5.  Layanan Konseling Individual
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dideritanya.
6.   Layanan Bimbingan Kelompok
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu dan/atau membahas secara bersama-ama pokok bahasan (topik) tertentu yang berguna untuk menunjang untuk  pemahaman dan kehidupannya mereka sehari-hari dan/atau untuk pengembangan kemampuan sosial, baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, serta untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan/atau tindakan tertentu.
7.  Layanan Konseling Kelompok
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan klien memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok, masalah yang dibahas itu adalah masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok.
8.  Layanan Keagamaan dan Pembinaan Akhlak
Selain hal – hal diatas layanan keagaamaan dan pembinaan akhlak merupakan hal yang terpenting diberikan kepada individu khususnya anggota keluarga. Karena terbentuknya keluarga yang dinamis dan harmonis berlandaskan pada tiang agama. Dengan adanya pembinaan akhlak, individu selaku anggota keluarga dapat mengetahui bagaimana akhlak untuk berinteraksi dengan orang lain yang lebih tua maupun yang lebih muda.

I.    Jenis – jenis Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Jenis bimbingan konseling yang biasanya dilakukan didalam keluarga diantaranya :
1.  Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar merupakan proses untuk membantu anak mengatasi kesulitan belajarnya. Orang tua dalam hal ini berperan mengajarkan dan membimbing, bukan mengerjakan tugas si anak.
2.  Bimbingan Ibadah/Agama
Dengan adanya bimbingan ini, anggota keluarga dapat mengenal agamanya sendiri, kaidah ataupun ajaran yang berlaku dalam agamanya sehingga memungkinkan untuk lebih mendekatkan diri kepada yang kuasa.
3.  Bimbingan Akhlak
Perkataan akhlak dari bahasa arab, jamak dari khuluk, secara lugowi diartikan tingkah laku untuk kepribadian. Akhlak diartikan budi pekerti, perangi, tingkah laku, atau tabiat. Untuk mendapatkan definisi yang jelas di bawah ini penulis akan kemukakan beberapa pendapat diantaranya: Ahmad Amin (Moh. Rifai, 1987: 41) mengemukakan bahwa “akhlak yang dibiasakan, artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak.
Secara umum bahwa akhlak dapat disamakan dengan budi pekerti, perangai atau kepribadian dari hal tersebut setiap individu berangkat dalam mempertahankan jati diri dari kesewenangan-wenangan individu lainnya, akhlak dapat mencerminkan kepribadian sekaligus dapat menggambarkan karakteristik untuk senantiasa dibina demi mempertahankan citra diri dan keluarga serta masyarakat sekitarnya. Seorang individu mempunyai akhlak, awalnya adalah hasil dari bimbingan orang tuanya dalam lingkungan keluarga, pengaruh yang tidak sengaja akan dapat diperoleh melalui Pengamatan panca indera, yang tidak disadari masuk dalam pribadi anak atau individu.

4.  Bimbingan Orientasi
 Bimbingan orientasi ini dimaksudkan untuk memberi arah atau gambaran kepada anggota keluarga dalam kehidupan. Misalnya membimbing anak dalam mencapai cita – cita dan keinginannya.
5.  Bimbingan Konseling Penyelesaian Masalah
Jika anggota keluarga mengalami masalah, jangan memarahinya. Karena hal ini akan memperburuk keadaan. Usahakan untuk membantu anggota keluarga mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.
6.  Bimbingan Keterampilan Hidup
Bimbingan keterampilan hidup (lifeskillscounseling) disebut juga lifeskills helping (LSH) atau lifeskills therapymerupakan “suatu pendekatan yang integratif untuk membantu klien agar mampu mengembangkan keterampilan membantu dirinya sendiri (self-helping)”.
Kata “skills” berkenaan dengan (1) wilayah (areas) keterampilan, seperti keterampilan Sementara keterampilan hidup diartikan sebagai sikap dan kemampuan untuk menghadapi berbagai problema kehidupan secara wajar, proaktif dan kreatif menemukan solusinya.
J.  Teknik Konseling Keluarga
Dalam konseling, di samping menggunakan teknik-teknik umum, dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus.
1.  Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya.
2.  Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks.
3.  Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut..
4.  Pembentukan Perilaku Model
Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk
6.  Latihan Saya Bertanggung Jawab
Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain.
7.  Bermain Proyeksi
Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain.

K.   Tata Cara Pelaksanaan Bimbingan Konseling dalam Keluarga
Adapun tata cara pelaksanaan bimbingan dalam keluarga, diantaranya :
1.         Kenali pribadi individu terlebih dahulu, kenali karakter dan masalah – masalah yang sedang dihadapi individu (anggota keluarga) tersebut.
2.           Lakukan pendekatan, dengan pendekatan dan mendengar keluh kesah anggota tersebut ia mungkin akan merasa lebih aman untuk mencurahkan isi hatinya.
3.         Beri selang waktu agar anggota keluarga tersebut memiliki waktu luang yang tepat untuk menceritakan masalah/petentangan batinnya.
4.         Ciptakan suasana yang senyaman (kondusif) mungkin bagi individu, atau anda dapat menggunakan ruangan khusus yang diberikan aroma terapi.
5.         Hindari emosi dan rasa curiga serta rasa ingin tahu yang berlebihan. Terkadang orang merasa jengkel jika seseorang ingin tahu apa saja yang terjadi dalam dirinya secara berlebihan dan memaksakan.
6.         Jika individu/anggota keluarga tersebut membutuhkan nasihat atau kritik yang membangun maka berilah. Namun jangan berlebihan sehingga terkesan menggurui.
7.          Berikan motivasi dan bangkitkan rasa percaya dirinya dengan memberikan contoh yang dapat menjadi teladan.
8.         Sedapat mungkin bantulah ia mencari solusi/jalan keluar bagi masalah yang dihadapinya.
9.         Berikan pujian jika hal ini memang dibutuhkan.
10.     Gunakan media yang dapat membantu anda untuk memberikan arahan agar individu dapat memecahkan masalahnya.
11.      Konsultasi dengan pihak – pihak terkait atau orang yang lebih ahli dalam menangani individu tersebut.
12.     Rahasiakan masalah/konflik yang terjadi dalam diri individu/anggota keluarga tersebut.
13.     Bimbingan tidak dapat dilakukan dengan jalan pintas atau backstreet dan ditinggalkan begitu saja, tapi harus dilakukan secara berkala.

L.   Peranan Agama dalam Bimbingan Konseling Keluarga
Agama merupakan landasan dasar terbentuknya keluarga yang sakinah. Agama juga yang mengatur tentang kosep kehidupan berkeluarga. Pendidikan agama harus dimulai dari rumah tangga, sejak si anak masih kecil. Pendidikan tidak hanya berarti memberi pelajaran agama kepada anak-anak yang belum lagi mengerti dan dapat menangkap pengertian-pengertian yang abstrak. Akan tetapi yang terpokok adalah penanaman jiwa percaya kepada Tuhan, membiasakan mematuhi dan menjaga nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang ditentukan oleh ajaran agama.

















DAFTAR PUSTAKA


Ifdil  . 2007. Kerangka Konseptual Konseling Pemuda dan Keluarga. [Online]. Tersedia :http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=104